{"id":4615,"date":"2025-12-11T09:56:08","date_gmt":"2025-12-11T02:56:08","guid":{"rendered":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/?p=4615"},"modified":"2025-12-11T10:09:47","modified_gmt":"2025-12-11T03:09:47","slug":"ppg-universitas-pgri-pontianak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/?p=4615","title":{"rendered":"PPG Universitas PGRI Pontianak"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"container\">\n<header>\n<h1>PPG Universitas PGRI Pontianak Hidupkan Kembali Permainan Tradisional<\/h1>\n<p>di Dusun Lemukutan Besar, Desa Lemukutan, Kabupaten Bengkayang<\/p>\n<\/header>\n<div class=\"content\">\n<p class=\"lead\" style=\"text-align: justify;\">Menutup akhir November 2025, Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Pontianak menggelar kegiatan sosialisasi permainan tradisional di RW 02 Dusun Lemukutan Besar, Desa Lemukutan, Kabupaten Bengkayang. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen PPG dalam melestarikan kearifan lokal sekaligus menanamkan nilai kegigihan, kesopanan, dan konservasi budaya kepada generasi muda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan ini digagas berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang menunjukkan bahwa anak-anak di Dusun Lemukutan Besar mulai kehilangan kedekatan dengan permainan tradisional seperti gasing, galah asin, dan engklek. Dominasi permainan digital membuat interaksi sosial berkurang dan nilai-nilai budaya lokal semakin terpinggirkan. Melihat kondisi tersebut, tim PPG dengan semangat dan ketulusan bergerak untuk menghadirkan kembali keceriaan permainan rakyat ke tengah masyarakat.<\/p>\n<div class=\"image-placeholder\">\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-4616 aligncenter\" src=\"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/20\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-11-at-8.11.15-AM-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/20\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-11-at-8.11.15-AM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/20\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-11-at-8.11.15-AM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/20\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-11-at-8.11.15-AM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/20\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-11-at-8.11.15-AM-600x450.jpeg 600w, https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/20\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-11-at-8.11.15-AM.jpeg 1152w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><!-- Ganti dengan gambar asli jika ada --><\/p>\n<\/div>\n<h2>Proses Pelaksanaan Kegiatan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama Pemerintah Desa, ketua RW, tokoh adat, dan warga setempat. Mahasiswa PPG kemudian menyiapkan alat permainan, poster edukatif, serta mengundang fasilitator lokal untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai nilai kesopanan dan budaya masyarakat setempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat kegiatan berlangsung, suasana penuh antusias tampak dari puluhan anak yang hadir. Mereka diperkenalkan pada makna permainan tradisional sebagai warisan budaya yang mengajarkan kerjasama, kegigihan, sportivitas, serta keakraban sosial. Anak-anak kemudian diajak mempraktikkan permainan secara langsung, dipandu oleh tokoh adat dan pendamping kegiatan.<\/p>\n<div class=\"quote\" style=\"text-align: justify;\">\u201cAnak-anak sangat senang. Banyak dari mereka bahkan baru pertama kali melihat gasing kayu ataupun mencoba engklek,\u201d ujar salah satu fasilitator lokal.<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Warga dan orang tua juga menyambut hangat kegiatan ini. Selain memberikan hiburan yang edukatif, permainan tradisional dianggap mampu menghidupkan kembali interaksi antarwarga serta memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan desa.<\/p>\n<h2>Penutup dan Harapan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan diakhiri dengan sesi refleksi dan dokumentasi, termasuk pengisian form kesan peserta sebagai bahan evaluasi. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua anak ingin kembali memainkan permainan tradisional secara rutin. Warga turut memberikan apresiasi kepada tim PPG yang dengan penuh kesopanan dan kepedulian telah membantu menghidupkan kembali budaya lokal mereka.<\/p>\n<div class=\"highlight\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan harapannya agar permainan tradisional dapat menjadi kegiatan berkelanjutan di Dusun Lemukutan Besar. \u201cKami ingin nilai-nilai budaya lokal tidak hanya dikenang, tetapi juga dipraktikkan oleh anak-anak sebagai bagian dari jati diri mereka.\u201d<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">PPG Universitas PGRI Pontianak menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan yang berorientasi pada konservasi budaya lokal, pendidikan karakter, dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk terus menjaga dan melestarikan permainan tradisional sebagai kekayaan bangsa.<\/p>\n<\/div>\n<footer>\u00a9 2025 Program Studi PPG Universitas PGRI Pontianak | Berita Resmi<\/footer>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; PPG Universitas PGRI Pontianak Hidupkan Kembali Permainan Tradisional di Dusun Lemukutan Besar, Desa Lemukutan, Kabupaten Bengkayang Menutup akhir November 2025, Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas PGRI Pontianak menggelar kegiatan sosialisasi permainan tradisional di RW 02 Dusun Lemukutan Besar, Desa Lemukutan, Kabupaten Bengkayang. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen PPG dalam melestarikan kearifan lokal sekaligus menanamkan nilai kegigihan, kesopanan, dan konservasi budaya kepada generasi muda. Kegiatan ini digagas berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang menunjukkan bahwa anak-anak di Dusun Lemukutan Besar mulai kehilangan kedekatan dengan permainan tradisional seperti gasing, galah asin, dan engklek. Dominasi permainan digital membuat interaksi sosial [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_crdt_document":"","_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4615","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-umum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4615","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4615"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4615\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4621,"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4615\/revisions\/4621"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4615"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4615"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppg.upgripnk.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4615"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}